MASIH ADAKAH JIWA PEMUDA
(Min,26-jan-2020)
Dahulu kala pemuda itu adalah seorang yang di anggap sangat berpengaruh dan banyak membawa perubahan dalam aspek negara maupun dalam aspek yang lebih kecil lagi. Dahulu di dalam negara Republik Indonesia para pemudanya sangat lah berapi-api dan dan sangat menggebu-gebu dalam berbagai hal yang terjadi dan selalu respek dengan kejadian yang terjadi di lingkungannya. Banyak problema dialektik yang sering terjadi di tengah kehidupan para pemuda itu sendiri. Tetapi kenapa semua itu hanya omongan belakang saja sekarang. Galar pemuda tak sesangar dahulu kala yang sangat di sanjung kuat lah ataupun yang lainnya.
Zaman milenial ataupun di era goblalisasi yang teradi di negara kita sangat membawa pengaruh terhadap berkembangnya tingkah laku para pemuda nya, yang sangat dikhawatirkan lagi efek dari globalisasi itu sendiri membawa ke dalam hal yang tidak baik atau dapat dikatakan menjerumuskan ke dalam lingkungan yang negatif. Disini pula para kaum pemuda menjadi enggan untuk memberontak dan juga enggan untuk mepelaskan diri dari zona nyamannya.
Problema yang di hadapai para kaum kaum muda baik lelaki maupun perempuan tidak lah jauh berbeda. Banyak yang menganggap problema ini hanya problema biasa saja yang dipikirkan bisa saja berlalu dan hilang hanya dengan membiarkan saja alur bejalan. Nah disinilah kesalahan mereka (pemuda) itu salah. Malah dengan seperti itulah semakin kuatnya asa untuk mengancurkan jati diri pemuda itu sendiri.
Kita sebagai agen perubahan (Agent Of Changes) adalah orang-orang yang perlu membuka tabir pikiran yang luas tentang masih sedikitnya pemikiran meraka tentang dunia ini yang masih dibodohin dengan banyaknya kepalsuan yang telah mereka terima dan juga yang telah mereka amini selama ini dalam hidup mereka.
Dalam dunia yang semakin berkebang ini, banyak godaan yang datang sili berganti dengan kenikmatan yang di berikannya tak lantas membuat para kaum muda itu berdiam, tidak sedikit diantara mereka yang tergiur dengan banyaknya godaan, yang dimana itu membuat ‘keidealisan’ dari mereka itu menjadi hancur dan terbawa oleh kenikmatan dari zaman itu sendiri.
Para pemuda yang sejatinya pada zaman dahulu itu adalah mereka yang menggerakkan kebenaran dan menentang kesalahan oleh mereka yang melakukannya, sekarang itu sudah tiada lagi dan mereka asik dengan dunia mereka sendiri, terlalu asik dengan permainan dan kegiatannya sendiri, tampa mementingkan persoalan yang terjadi disekelilingnya. Jiwa para kaum muda yang seharusnya dipupuk dari sekarang nyatanya hanya omongan belakang saja. Banyak mereka para institusi yang menyalahgunakan tugas dan wewenang mereka kejalan yang tidak benar dan tidak sedikit pula yang terikut dengan hal itu. Kemudian hal itu lah yang memperparah jiwa pemuda yang berapi api.
Secara fitrah, masa muda merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal. Dengan kematangan jasmani, perasaan, dan akalnya sangat wajar jika pemuda memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainya. Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan banyak dimiliki pemuda. Pemikiran kritis mereka sangat didambakan umat. Di mata umat dan masyarakat umumnya, pemuda adalah agen perubahan (agent of change) jika masyarakat terkungkung oleh tirani kezaliman dan kebodohan. Pemuda juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Tongkat estafet peralihan suatu peradaban terletak di pundak mereka. Baik buruknya nasib umat kelak, bergantung pada kondisi pemuda sekarang ini. Pemuda memiliki peranan yang besar untuk melakukan suatu perubahan dan untuk menjaga harkat-martabat bangsa serta untuk memajukan bangsa dan Negara. Peradaban dan kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas dan mentalitas pemudanya.
Sekarang coba kita fokuskan ke negeri ini. Sekilas flashback ke era perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Usaha yang ada pada zaman itu adalah usaha mayoritas pemuda Indonesia yang bersatu menuju visi yang sama, yaitu kemerdekaan Indonesia. Pemuda yang berani bukan hanya berani di mulut, tetapi berani dalam tindakan dan perbuatan.
Bagaimana dengan kondisi pemuda sekarang? Kehebatan potensi masa muda yang di catat dalam tinta emas sejarah, ternyata hari ini telah mengalami berbagai kemunduran. Fakta di lapangan banyak menjelaskannya, seperti data dari BNN (Badan Narkotika Nasional) yang mencatat keterlibatan remaja dan pemuda dalam berbagai kasus Narkoba. Dari data terlihat bahwa dari tahun ke tahun keterlibatan pemuda terus meningkat dengan penyebaran wilayah kasus yang terus meluas, dari kota-kota besar hingga ke kota dan desa kecil di pelosok-pelosok kampung. Ironisnya pula, keterlibatan pemuda ini rata-rata masih berada di bangku sekolah, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. Tercatat bahwa keterlibatan pelajar SMA lebih besar dibanding dengan pelajar sekolah lainnya. Mencoba membandingkan kondisi pemuda era terdahulu dengan kondisi pemuda sekarang, tampak memang banyak perbedaan yang signifikan.
Sekarang kita bisa melihat dan merasakan sendiri perbedaan itu,kemerosotan kehebatan pemuda bukan tak bersebab. Sebab utama yang bisa terjadi adalah berasal dari pembinaan yang kurang atau bahkan salah kepada pemuda. Pembinaan awal dan terdekat adalah pembinaan dari keluarga. Keluarga yang penuh perhatian dan cinta kasih serta menghidupkan nilai – nilai agama, akan membangun karakter yang baik pada pemuda sekaligus menghindarkannya dari kegiatan negatif, seperti narkoba, pergaulan bebas, tawuran, dan tindakan menyimpang lainnya. Maka di samping orangtua perlu meningkatkan keterampilannya mendidik anak remajanya, bisa di sinergikan dengan mendukung anaknya untuk bergabung dengan sektor pendidikan atau komunitas positif baik formal maupun informal yang baik dan berkualitas.
Disamping itu, seperti yang kita ketahui bersama jika seluruh pemuda Indonesia sangatlah heterogen. Mereka terdiri dari berbagai elemen-elemen yang berbeda dan dari berbagai macam bentuk kehidupan serta orientasi nilai yang proses pembetukan sekaligus penanamannya memerlukan waktu yang amat sangat lama dan melalui tahapan yang sulit. Bersinggungan dengan hal tersebut, beragamnya kebudayaan di Indonesia juga akan mempengaruhi pembentukan karakter jiwa serta sikap kepemimpinan pemuda di tiap-tiap daerah.
Oleh karena itu, kepemimpinan pemuda Indonesia masih memerlukan suatu pembentukan yang lebih matang. Salah satu cara pembentukannya yakni dengan adanya sikap pada pengamalan UUD 1945, Pancasila serta agama yang dianut. Dan agama merupakan unsur yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum para generasi muda dapat membentuk dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin. Sehingga apabila telah memiliki jiwa seorang pemimpin, mereka akan mengerti bagaimana cara membentuk sikap nasionalisme dan patriotisme pada bangsa. Dan hal tersebut akan membuat mereka semakin paham akan pentingnya mempertahankan idealisme negara Indonesia yang telah lama dan susah payah dibentuk demi perumusan suatu dasar, pedoman, cita-cita, harapan dan tujuan negara Indonesia...(RH)
